THEY TALK ABOUT: HUMAN RIGHTS DAY 2019

Menurut kang Gianta apa sih makna Human Rights Day itu?

Menurut saya, makna dari Human Rights Day adalah sebuah hari yang dapat membantu kita mengingat dan memahami bahwa setiap manusia yang ada di dunia ini tanpa terkecuali memiliki hak asasi, yang mana kita tahu bahwa hak tersebut juga sering kali tidak terpenuhi. Sehingga dapat dimaknai juga sebagai sebuah hari yang membuat kita harus memperbaiki sikap dan perilaku untuk dapat membantu meningkatkan kepedulian akan hal tersebut.

Menurut kang Gianta permasalahan Human Rights apa yang butuh mendapat perhatian lebih di moment perayaan 70 tahun Universal Declaration of Human Rights ini? Kemudian apa alasan akang memilih permasalahan tersebut?

Menurut saya isu HAM yang perlu mendapat perhatian terbesar saat ini adalah penyerangan pada masyarakat Palestina. Mengapa? Karena pelanggaran yang dilakukan sangatlah banyak dan dampak langsung dari pelanggaran tersebut berupa hilangnya nyawa masyarakat sehingga hal ini sangat menarik perhatian untuk terus dapat dicegah dan bila memungkinkan harus dihentikan.

Menurut akang bagaimana mahasiswa kedokteran dapat berperan dalam mendukung Human Rights Day?

Hal yang dapat dilakukan oleh mahasiswa kedokteran dalam mendukung Human Rights Day ini adalah dengan cara membuat kampanye mengenai isu apapun yang ingin diangkat, untuk sama-sama membantu mengingatkan teman dan warga sekitar bahwa isu mengenai HAM masih sangat banyak beredar di sekitar kita sehingga tidak sebelah mata dalam memandangnya. 

Hal lain yang juga dapat dilakukan seperti penggalangan dana agar dapat membantu segera secara nyata dan manfaatnya dapat langsung dirasakan. Selain itu, juga dapat menjadi kesadaran diri masing-masing member CIMSA untuk dapat memahami sebarapa banyak dan besar isu yang sedang berlangsung di sekitar kita sehingga membantu merubah pola pikir dan sikap diri terhadap hal tersebut dan nantinya menjadi penggerak utama di lingkungan masyarakat dalam melawan isu hak asasi manusia dalam bentuk apapun.

 

 

THEY TALK ABOUT: WORLD NO TOBACCO DAY 2019

Dengan canggihnya teknologi saat ini, sangat mudah untuk memperoleh informasi termasuk mengenai bahaya merokok. Sayangnya, banyak masyarakat yang mulai merokok di usia muda. Ini terbukti dari peningkatan prevalensi perokok usia remaja (10-18 tahun) pada hasil Riskesdas 2018 yang meningkat di angka 9,1% dari Riskesdas 2013, yaitu 7,2%. Kebiasaan ini berlanjut hingga dewasa sehingga seringkali banyak orang yang sudah tahu bahayanya pun sulit untuk mencoba berhenti merokok. Selain itu, untuk berhenti merokok butuh dukungan yg kuat dari sekitar. Ini tentunya sangat sulit untuk perokok sosial.

Kebijakan terbaru pemerintah yang melarang merokok sambil berkendara sudah selayaknya ditegaskan untuk mencegah dampak dari merokok terhadap pengendara lainnya. Namun, untuk menekan jumlah perokok aktif menurut saya kurang tepat dan diperlukan kebijakan yang lebih besar terkait keberadaan rokok itu sendiri. Di Indonesia, harga rokok masih relatif murah sehingga rokok mudah didapatkan. Tapi larangan menjual rokok pada usia di bawah 18 tahun sudah beberapa tahun ini dipertegas oleh pemerintah. Layanan berhenti merokok dari Kemenkes juga sudah ada, tetapi belum banyak yang tahu. Jika bisa dipertahankan dan diperkuat dengan kebijakan mengenai harga rokok dan pelayanan konseling berhenti merokok yang diimplementasikan dengan baik, jumlah perokok aktif benar-benar bisa ditekan.

Peran mahasiswa kedokteran dalam menekan angka perokok aktif di Indonesia:

  • Saat ini, tidak sedikit mahasiswa yang merokok. Sebagai mahasiswa kedokteran, cobalah untuk menjadi lebih terintegrasi atas apa yang diucapkan dengan apa yg dilakukan. Berhenti merokok bisa dimulai dari diri sendiri.
  • Meningkatkan awareness masyarakat tentang bahaya merokok dan bahwa berhenti merokok itu bisa dilakukan, yang tidak henti-hentinya telah kita lakukan sejak dulu.
  • Edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) mengenai rokok untuk memutus rantai kebiasaan merokok dalam tingkat keluarga.
  • Mempromosikan lembaga-lembaga yang bisa membantu dalam hal konseling merokok, seperti Quit Line Berhenti Merokok Kemenkes (0-800-177-6565) yang bisa diakses Senin – Sabtu jam 08.00-16.00.

Semoga niat baik kita dapat tersalurkan demi Indonesia yang lebih sehat dan bebas asap rokok.

THEY TALK ABOUT: WORLD HEALTH DAY 2019

Berbicara tentang jaminan kesehatan universal artinya memastikan masyarakat Indonesia memiliki akses terhadap kesehatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif pada pelayanan kesehatan tanpa kendala keuangan. Salah satu upaya tercapainya jaminan kesehatan universal adalah melalui program jaminan kesehatan nasional (JKN). Namun kondisi ini tidak hanya bisa dinilai dari kepesertaan JKN, melainkan melalui akses masyarakat pada fasilitas kesehatan. Untuk menciptakan jaminan kesehatan universal, diperlukan dukungan dari pemerintah, penyedia layanan kesehatan misalnya tenaga medis, ketersediaan obat-obatan dan dana jaminan sosial, sistem rujukan yang efektif, dan masih banyak lagi.

Meski program JKN sudah berjalan beberapa tahun, masih terdapat masalah yang harus dibenahi untuk mewujudkan jaminan kesehatan universal yang ideal. Seperti kurangnya ketersediaan fasilitas dan tenaga kesehatan di daerah terpencil, kurangnya sosialisasi mengenai JKN terutama bagi masyarakat awam, regulasi sistem rujukan yang dinilai memberatkan pasien, dan lain-lain.

Mahasiswa kedokteran pun dapat berperan penting dalam mendukung program yang dilaksanakan pemerintah saat ini, terutama di bidang promotif dan preventif, seperti:

  1. Mengedukasi masyarakat mengenai pola hidup sehat dimulai dari hal mudah seperti makan makanan bergizi dan mencuci tangan
  2. Mengenalkan masyarakat terhadap tanda dan gejala penyakit yang dijumpai sehari-hari
  3. Menjelaskan penanganan awal yang bisa dilakukan di rumah dan kapan harus memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan
  4. Mendorong masyarakat untuk tidak malas mengantre di fasilitas kesehatan karena penyakit yang sudah berat akan semakin sulit untuk ditangani

CIMSA

Empowering Medical Students
Improving Nation’s Health